SMK di Mojokerto Ciptakan Pupuk Cair Organik Hayati

No comment

SMK di Mojokerto Ciptakan Pupuk Cair Organik Hayati

SMK di Mojokerto Ciptakan Pupuk Cair Organik Hayati

SMK di Mojokerto Ciptakan Pupuk Cair Organik Hayati

Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Mutu di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto menciptakan inovasi untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Para siswa menciptakan pupuk cair organik hayati untuk para petani.

Pupuk cair organik yang diberi nama Pupuk Organik Hayati (POH) ini berbahan baku air leri (air cucian beras, red) dicampur air kelapa, dedek (pakan ternak, red) dan molase (tetes, red). Kandungannya mengandung bakteri pseudomonas fluorescens sebagai bahan penyubur tanah.

Pupuk tersebut tanpa menimbulkan efek samping sehingga dinilai cukup bagus untuk tanaman para petani. Karena bakteri pseudomonas fluorescens dikenal bisa beradaptasi dengan baik pada akar tanaman sehingga membuat tanah subur.

Guru pembimbing SMK Mutu, Taufiqkur Rohman mengatakan, tujuan pembuatan

pupuk cair organik hayati untuk mengembalikan tanah yang sudah rusak atau tidak subur kembali menjadi subur lagi. “Leri bermanfaat menghambat perkembangbiakkan pathogen,” ungkapnya, Sabtu (20/7/2019).
Baca Juga:

Cegah Penyelewengan Pupuk Subsidi, Aparat Pantau Gudang Pupuk
Agar Produktivitas Padi Meningkat, Pemupukan Berimbang Jadi Andalan
PG Bidik Sentra Pertanian Wonosobo dengan Pupuk non Subsidi
Baru 13,5 Persen Petani Indonesia Gunakan Pupuk Organik

Selain itu, lanjut Taufiqkur, air leri juga bermanfaat untuk kesuburan tanaman dan menyehatkan akar tanaman. Menurutnya, saat ini banyak pupuk urea yang mengandung zat kimia yang dapat merusak ekosistem di dalam tanah sehingga membuat tanah menjadi semakin mengeras.

“Sekarang ini, banyak pupuk urea yang dicampur dengan bahan-bahan kimia sehingga membuat tanah itu menjadi keras. Atas keprihatinan ini sehingga kami membuat inovasi pemberdayaan pupuk cair organik untuk para petani agar tanah kembali subur,” katanya.

Biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu tinggi dibanding dengan pupuk kimia.

Bahkan para petani bisa menekan biaya pembelian pupuk hingga 50 persen. Pupuk cair organik hayati juga tidak habis jika dikembangkan lebih banyak lagi.

“Proses pembuatannya juga sangat sederhana, sediakan galon air dan botol bekas minuman yang dihubungkan dengan selang air berukuran kecil. Untuk 20 liter pupuk cair organik hayati cukup menyediakan 2 kg dedek, 10 liter air leri, 5 liter air kelapa dan 1 kg molase,” ujarnya.

Molase berguna sebagai nutrisi perkembangan mikroba di dalam dedek yang sudah

dikukus terlebih dulu. Kemudian pompa udara dari oksigen yang segar agar tidak terkontaminasi dengan bakteri dan juga diberi larutan zat kalium permanganate untuk membunuh bakteri dari udara.

“Aliran udara disaring menggunakan alkohol, jika ada bakteri yang lolos tidak sampai masuk pada proses pembuatan pupuk cair organikorganik hayati. Dibutuhkan waktu 14 hari, para petani tinggal mencampurkan dengan air dan menyemprotkan ke lahan persawahan yang akan ditanami atau yang sudah dibajak,” jelasnya.

 

Sumber :

https://education.microsoft.com/Story/CommunityTopic?token=LWt5G