Sindrom Vena Cava Superior

Sindroma Vena Cava Superior

Sindroma Vena Cava Superior

Sindrom Vena Cava Superior

Vena vena besar pada rongga toraks sangat  mudah mengalami kompresi dan obstruksi. Jika vena cava superior terbendung, maka seringkali terjadi efusi pleura, edema pada muka, kepala, extremitas bagian atas, dan trakea. Pada bentuk yang lebih berat lagi dapat terjadi edema otak, terjadinya pengisian atrium jantung ( gangguan “preload”). Tanda dan gejala yang muncul tergantung dari berat ringannya obstruksi pada vena cava superior, dan juga ada tidaknya obstruksi pada organ organ vital disekitarnya (trakea dll).

Pada umumnya SVC (“Superior Vena Cava Syndrome”) disebabkan karena keganasan pada rongga mediastinum. Angka pada literatur barat dikatakan kurang lebih 75 % disebabkan oleh keganasan pada paru, sedangkan sisanya disebabkan oleh karena limfoma, lesi benigna seperti TBC ataupun thrombosis vena o.k CVP. Di  Indoensia angka ini belum jelas.  

Diagnosa.

  edema dari muka
  adanya kongesti vena vena di leher, lengan atas
Jika SVC terjadi secara perlahan-lahan, seringkali diagnosa lebih sulit ditegakkan, dan memerlukan pemeriksaan khusus seperti venografi, radioisotop.
 CT Scan dengan bantuan kontras, biasanya dapat memastikan lokasi dari obstruksi, dan kira kira penyebab obstruksi tersebut.

 Diagnosa histopatologi/ sitologi, didapatkan dari biopsi lesi yang dicurigai atau metastasenya, sitologi sputum, bronkoscopi, FNA (untuk limfoma, tumor paru).
  Bahkan kadang kadang tindakan yang lebih agresif seperti torakotom ataupun mediastinoscopi pun dilakukan.
 Seringkali tindakan untuk memastikan diagnosa ditunda agar keadaan darurat penderita dapat diatasi terlebih dahulu.

Terapi.
 Terapi sangat tergantung dari etiologi SVC.
  Dalam keadaan darurat, (adanya obstruksi trakea), maka diagnosa etiologi ditangguhkan.
   Radioterapi dengan dosis harian yang lebih tinggi merupakan terapi pilihan. (Biasanya diberikan 4.0 Gy perhari), sampai mencapai 30 – 50 Gy.
   Pada keganasan sistemik, maka kemoterapi merupakan pilihan yang lain. Pilihan kemoterapi sangat tergantung pada kecurigaan terhadap data histopatologi / sitologi ataupun kecurigaan kita.
  Kombinasi radioterapi dan khemoterapi merupakan pilihan yang diharapkan dengan cepat akan mengecilkan masa tumor yang menyebabkan kompresi.
   Kortikosteroid dosis tinggi merupakan obat yang hampir selalu diberikan, untuk mengurangi edema, dan reaksi inflamasi sebagai akibat tumor nekrosis ataupun lisis setelah pengobatan.
   Pengobatan untuk lesi benigna, seperti TBC statika, anti trombus diberikan sesuai etiologinya. 

Prognosa.
Pada keganasan, umumnya “dubious ad malam” oleh karena adanya SVC menunjukan keadaan stadium yang telah lanjut.


Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/