Sekolah Katolik Kekurangan Murid dan Kesulitan Finansial

Sekolah Katolik Kekurangan Murid dan Kesulitan Finansial

Sekolah Katolik Kekurangan Murid dan Kesulitan Finansial

Sekolah Katolik Kekurangan Murid dan Kesulitan Finansial
Sekolah Katolik Kekurangan Murid dan Kesulitan Finansial

Sekolah katolik yang selama ini dikenal luas sebagai sekolah dengan kualitas

unggulan tak lepas dari berbagai persoalan. Perubahan zaman membuat sekolah katolik harus banyak berbenah.
Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengatakan persoalan yang dihadapi oleh sekolah katolik di Indonesia saat ini sangat kompleks. Salah satu persoalan yang cukup berat saat ini adalah terus menurunnya jumlah murid di sekolah katolik. Menurunnya jumlah murid itu otomatis membuat kondisi finansial sekolah katolik menjadi terganggu.
“Akibatnya menyebabkan untuk menjalankan sekolah yang baik sesuai dengan harapan kadang-kadang mengalami kesulitan besar,” kata uskup dalam jumpa pers Konferensi Sekolah Katolik Indonesia 2020 yang digelar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Jumat (10/1).
Saat ini, hal paling penting yang bisa dilakukan oleh sekolah katolik di seluruh Indonesia menurutnya adalah dengan memperkuat kerja sama dan sinergi, sehingga bisa saling membantu satu sama lain. Dengan begitu, sekolah-sekolah katolik yang sudah lama berkiprah dan menjadi sekolah unggulan tetap bisa memberikan kontribusi penting bagi pendidikan di Indonesia.

Ketua Presiduim Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Romo Vincentius

Darmin Mbula, memaparkan hal senada. Selama ini wajah sekolah katolik di tengah masyarakat memang baik, namun kenapa jumlah muridnya kian menurun?
Menurut Romo Darmin, ada suatu kecemasan bahwa masyarakat kita itu memang tidak mencari sekolah yang baik untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, salah satunya adalah kebijakan sekolah gratis. Masyarakat cenderung lebih memilih sekolah gratis dengan kualitas seadanya, ketimbang sekolah dengan kualitas baik namun harus membayar.
“Nah ini yang juga menjadi tantangan bagi kami bagaimana untuk mendesain ulang, bahwa di satu pihak diakui oleh masyarakat kualitasnya. Tapi di lain pihak justru tidak menjadi pilihan saat menyekolahkan anaknya,” ujarnya.

Kondisi keberagaman yang ada juga dinilai membuat murid di sekolah katolik

semakin menurun. Terlebih, polarisasi antargolongan kini kian menguat, misalnya masyarakat pemeluk agama tertentu akan lebih memilih sekolah yang napasnya sesuai dengan agamanya.
“Padahal pendidikan menurut saya adalah sebuah komunitas belajar peradaban bersama. Nah ini yang seharusnya dibuka kembali ruang-ruang publik seperti itu,” kata Romo Darmin.

 

Sumber :

https://www.belajarbahasainggrisku.id/