Penyebab perbedaan antara mahzab Ru’yah dan Hisab

Penyebab perbedaan antara mahzab Ru’yah dan Hisab

Akar dari lahirnya aliran mahzab dalam penentuan awal bulan Qomariyah adalah perbedaan pemahaman terhadap hadist-hadist hisab ru’yah[19]Dimana menurut penelitian syihabuddin al- Qalyubi, hadist-hadist hisab ru’yah mengandung sepuluh sepuluh interpretasi yang beragam, diantaranya:

  1. Perintah berpuasa berlaku atas semua orang yang melihat hilal dan tidak berlaku atas orang yang tidak melihatnya.
  2. Melihat di sini melalui mata. Karenanya, ia tidak berlaku atas orang buta.
  3. Ru’yah secara ilmu bernilai mutawattir dan merupakan berita dari orang yang adil
  4. Nash tersebut mengandung juga makna zhan sehingga mencakup ramalan dalam nujum (astronomi)
  5. Ada tuntutan puasa secara continyu jikaterhalang pandangan atas hilal manakala sudah ada kepastian hilal sudah dapat di lihat.
  6. Ada kemungkinan hilal sudah wujud sehingga wajib puasa, walau menurut ahli astronomi belum ada kemungkinan hilal dapat di lhat.
  7. Perintah hadist tersebut ditujukan kepada kaum muslimin secara menyeluruh. Namun pelaksanaan ru’yah tidak diwajibkan kepada seluruhnya bahkan mungkin perseorangan.
  8. Hadist ini mengandung makna berbuka puasa.
  9. Rukyah itu berlaku terhadap hilal romadhon dalam kewajiban puasa tidak untuk iftharnya.
  10. Yang menutup pandangan ditentukan hanya oleh endung bukan selainnya

Berawal dari perbedaan itu lahirlah 2 mahzab besar.[20]

Pertama,

Mazhab Ru’yah, menurut mazhab ini penentuan awal dan akhir bulan ramadhan ditetapkan berdasarkan Rukyah atau melihat bulan pada hari ke 29. Menurut mazhab ini term rukyah pada hadist-hadist hisab ru’yah adalah bersifat ta’abudighair ma’qul al-ma’na. Artinya tidap dapat dirasionalkan pengertiannya, juga tidak dapat diperluas maknannya dengan demikian, rukyah hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala.[21] Mengenai ru’yah bil fi’li dengan menggunakan alat (nadzariyyah), para ulama juga berbeda pendapat. Ibnu hajar misalnya, tidak mengesahkan penggunaan cara pemantulan melalui permukaan kaca atau air.[22] Al-Syarwani lebih jauh menjelaskan bahwa penggunaan alat yang mendekatkan atau membesarkan seperti teleskop, air, ballur(benda yang berwarna putih seperti kaca) masih dapat dianggap sebagai rukyah.[23]begiitu juga Al-Muthi’i memboleh kan alat bantu.

Kedua,

Madzhab hisab, penentuan awal dan akhir bulan qomariyyah berdasarkan  perhitungan falak. Menurut mazhab ini, term rukyah yang ada dalam hadist-hadist hisan ru’yah dinilai bersifat ta’aqquli—ma’qul al-ma’na, maksudnya dapat di rasionalkan, diperluas dan di kembangkan. Sehingga ia dapat diartikan ‘mengetahui’ sekalipunbersifat zhanni-dugaan kuat- tentang adanya hilal, kendatipun hilal  menurut hisab falaki tidak mungkin dapat dilihat.[24]

RECENT POSTS