Pentingkah Pendidikan Seks Dalam Keluarga?

No comment

Pentingkah Pendidikan Seks Dalam Keluarga? – Kampus UGM kelabakan. Isu pemerkosaan seorang mahasiswinya menyita perhatian publik. Berawal dari tulisan berjudul “Nalar Pincang UGM atas permasalahan pemerkosaan,” aib ini pulang lagi terkuak. Artikel yang ditulis oleh Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa Balairung.

Artikel tersebut menginformasikan mengenai pelecehan seksual yang dilaksanakan mahasiswa terhadap teman timnya sendiri pada ketika menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pihak kampus telah menciptakan tim independen guna menyelidiki permasalahan ini.

Selain permasalahan pelecehan mahasiswi UGM itu, memori kita pulang menguat soal seorang turis asing yang pun menjadi korban pelecehan seksual. Dilansir website metronews.com, pelecehan turis tersebut terekam CCTV dalam di antara hostel di Yogyakarta. Dua cerita di atas serupa puncak gunung es permasalahan kekerasan seksual yang terjadi di tanah air.

Soal pelecehan seksual, pihak yang dirugikan umumnya, anak-anak dan kaum hawa. Terlepas dari kemauan “suka sama suka”, atau bahkan dipaksa, sampai berujung pada kekerasan fisik. Tetap saja, gejala ini merupakan durjana seksual.

Kejahatan seksual menakut-nakuti kita dari segala aspek, termasuk tersebut dalam dunia pendidikan. Pelakunya dapat beragam. Teman sekolah, rekan kerja, teman sesama mahasiswa, orang di luar kampus laksana pacar, guru, orang tidak dikenal, pegawai atau staff atau karyawan, asisten dosen bahkan ada pun dosen.

Komisi Perlindungan Anak mengejar 223 permasalahan kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia dan tergolong anak-anak menjadi korbannya (data 2018). Kejahatan seksual yang terjadi bisa berujung pada terganggunya kejiwaan, baik tersebut jiwa si korban maupun pelaku. Kebanyakan penyintas memang cuma hendak bercerita. Sedikit diantaranya yang berani tersingkap atau bahkan mengadukan pelaku. Sebagian takut sebab berujung dirasakan berlebihan atau bahkan balik menyerang si korban.

Celakanya, orang-orang banyak sekali tidak percaya. Padahal si korban paling rikuh guna bercerita sebab dihantui rasa trauma yang mendalam. Kejahatan berupa pelecehan seksual dapat berdampak fatal untuk kejiwaan seseorang.

Menyoroti insiden yang lazim terjadi, hadir tanda tanya: Apakah perlu edukasi seks diperkenalkan di tengah-tengah keluarga?

Kurangnya moral dan edukasi seks semenjak dini adalahsalah satu hal penyebab gejala ini tidak jarang terjadi.

Pendidikan seks bukanlah edukasi ponografi. Berdasarkan kesepakatan internasional di Kairo pada 1994 (The Cairo Consensus) yang ditandatangani oleh 184 negara, tergolong Indonesia menyatakan, perlunya edukasi seks untuk anak-anak dan remaja diperkenalkan semenjak dini. Pendidikan seks sangat urgen diperkenalkan guna dapat menolong anak-anak dan remaja supaya terhindar dari pelecehan atau pembiasan seks yang bisa mengancam.

Memperkenalkan edukasi seks bukan berarti mengenalkan pornografi. Kurangnya pengetahuan bakal seks ingin mengakibatkan anak-anak atau remaja-remaja akan menggali tahu mengenai seks tersebut. Kurangnya pengetahuan bakal seks yang menyatakan, seks hanyalah fantasi-fantasi belaka. Lewat pornografi, mereka akan menggali tahu tentang seks dari luar keluarga laksana mengakses video-video porno yang tidak sedikit disuguhkan di internet, gambar-gambar porno dari majalah, dan beda sebagainya.

Pengenalan akan edukasi seks bukan berarti menyerahkan pendidikan mengenai teknik melakukannya akan namun bagaimana anak-anak menangkal berkembangnya benak negatif. Mengingat maraknya teknologi dan informasi laksana internet. Dimana anak-anak ketika ini yang ingin sudah dapat mengakses informasi apa saja dari suatu ponsel pintar.

Terutama pada remaja yang berusia SMP dan SMA. Diusia tersebut, semua remaja ingin penasaran dan hendak mencoba hal-hal yang baru. Perlu perhatian yang konsentrasi pada anak-anak yang sedang meginjak di umur remaja. Karena diusia tersebutlah mereka sedang merasakan masa pubertas dengan situasi hormon yang tinggi. Yang menjadi kekurangan orangtua ialah tidak seluruh kehidupan pergaulan anak bisa dikendalikan orangtua. Tanpa disadari anak-anak dapat saja terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Maka dengan itu dibutuhkan peran dari keluarga terutama orangtua tentang hal ini. Orangtua dapat mengucapkan pengetahuan mengenai bahayanya seks di umur dini. Sehingga mereka tahu mana yang aman dan mana yang riskan serta apa bahayanya. Bahaya mencakup Kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD), Penyakit Menular Seksual (PMS), penularan HIV/AIDS, rusaknya organ tubuh pada unsur kemaluan, dan bahkan sanksi sosial yang diterima laksana dapat mencaci nama baik keluarga, dikucilkan teman-teman dan masyarakat dan tidak sedikit lainnya.

Orang tua pun dapat dengan memperkenalkan urusan itu dari gejala yang terjadi laksana kehamilan dini yang berujung pada aborsi, pembunuhan dan pengasingan bayi. Tidak melulu itu saja, akibat negatifnya pada kejiwaan seseorang baik secara psikis dan jasmani akan yang berujung menghantui hidup sepanjang waktu.

Pengenalan bakal pengetahuan seks dapat menolong mereka mengawal diri dari pergaulan yang tidak baik. Kegiatan pengenalan dapat dilaksanakan melalui diskusi simpel dalam peluang ketika duduk bersama, menonton berita di televisi yang membicarakan isu bersangkutan.

Penanaman nilai moral dapat menyerahkan penjelasan begitu besarnya pengaruh buruk dari seks bebas. Sehingga anak atau remaja bisa menyadari secara objektif seks di umur dini adalahhal yang tabu guna dipikirkan bahkan hingga untuk dilaksanakan pada umur dini.

Pendidikan seks ditengah masyarakat

Perlu dihimbau untuk masyarakat yang masih mempunyai stereotif tentang edukasi seks. Sekali lagi, edukasi seks bukan lah edukasi pornografi. Masyarakat yang tidak memahami pendidikan seks tidak bakal tahu bagaimana teknik menghindari bahaya dari penyalahgunaan seks.

Dengan pengetahuan yang lumayan tentang seks, masyarakat dihimbau dapat memahami resiko yang terjadi, baik tersebut penularan penyakit seksual yang akan hadir maupun penyakit yang mematikan laksana HIV/AIDS dan sebagainya sampai resiko yang berujung pada ranah hukum.

Di Indonesia sendiri, edukasi seks belum menemukan perhatian yang serius oleh pemerintah. Pemerintah dapat menggagas penerapan kurikulum tentang edukasi seks di sekolah, dan dunia perkuliahan, berkolaborasi dengan pihak LSM menyelenggarakan workshop serta seminar-seminar tentang edukasi seks. Karena itu dibutuhkan peran serta dari pihak pemerintah dan lembaga-lembaga yang berhubungan dalam penyampaian edukasi seks yang tepat sasaran sampai-sampai menghasilkan output yang benar.

Jadi edukasi seks bukanlah urusan yang tabu, melainkan berfungsi untuk diperkenalkan di tengah-tengah orang yang menjadi priortitas kita.

Sumber: Pelajaran.Id