Pengertian Komunikasi Tertulis

Pengertian Komunikasi Tertulis

Pengertian Komunikasi Tertulis

Pengertian Komunikasi Tertulis

Komunikasi tertulis ialah

komunikasi yang dilakukan yang melalui sebuah tulisan yang dilakukan dalam kegiatan surat menyurat yang melalui pos, telegram, telexaf, fax, e-mail dan sebagainya. Dalam dunia bisnis komunikasi tertulis ini terbilang sering dilakukan. Contoh bentuk komunikasi tertulis misalnya ketika melakukan surat-menyurat bisnis, seperti :

  • Membuat dan mengirim surat teguran kepada nasabah yang menunggak pembayarannya.
  • Membuat dan mengirim surat aduan ( claim ) kepada pihak lain.
  • Membuat dan mengirim surat penolakan kerja.
  • Membuat dan mengirim surat penawaran harga barang kepada pihak lain.
  • Membuat dan mengirim surat konfirmasi barang kepada pelanggan.
  • Membuat dan mengirim surat pemesanan barang ( order ) kepada pihak lain.
  • Membuat dan mengirim surat permintaan barang kepada pihak lain.
  • Membuat dan mengirim surat kontak kerja kepada pihak lain.
  • Member informasi kepada pelanggan yang meminta informasi produk-produk baru.

Bentuk-Bentuk Komunikasi Tertulis

Berikut ini terdapat beberapa bentuk-bentuk komunikasi tertulis, terdiri atas:

1. Surat dan Memo, diklasifikasikan kedalam 4 kategori:

  1. permintaan/permohonan langsung
  2. rutin, berita dan pesan–pesan  yang baik
  3. berita–berita yang tidak baik
  4. pesan–pesan persuasif

2. Laporan


Prinsip-Prinsip Komunikasi Tertulis

Berikut ini terdapat beberapa prinsip-prinsip komunikasi tertulis, terdiri atas:

  • Completeness (Lengkap)
  • Conciseness (Ringkas)
  • Consideration (Pertimbangan)
  • Concreteness (Konkrit)
  • Clarity (Jelas)
  • Courtesy (Sopan)
  • Correctness (Benar)

Persyaratan Penulisan Komunikasi Tertulis

Berikut ini terdapat beberapa persyaratan penulisan komunikasi tertulis, terdiri atas:

  1. Ditulis dalam format ayau bentuk yang menarik ;
  2. Memilih maksud dan tujuan;
  3. Menggunkan bahasa yang mudah dimengerti;
  4. Penggunaan bahasa yang baik dan benar;
  5. Penggunaan bahasa disesuaikan dengan kemampuan pemahaman dari pihak pembaca;
  6. Mencerminkan pengertian terhadap masalah-masalah yang dihadapi atau yang dituju;
  7. Hindari penggunaan kata atau kalimat yang dapat membingungkan pembaca;
  8. Menunjukkan budi bahasa dan kewajiban penulis.

Baca Juga :