Mendikbud: Sekolah Sekadar Penitipan Anak, Keluarga Paling Menentukan

No comment

Mendikbud: Sekolah Sekadar Penitipan Anak, Keluarga Paling Menentukan

Mendikbud Sekolah Sekadar Penitipan Anak, Keluarga Paling Menentukan

Mendikbud Sekolah Sekadar Penitipan Anak, Keluarga Paling Menentukan

Dalam rangka kegiatan Hari Pertama Sekolah (HPS) Tahun Pelajaran 2019-2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy bersama para pejabat eselon I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melakukan kunjungan ke beberapa sekolah seperti SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru Jaksel, SDN 3 Sukaharja Kabupaten Tangerang Banten, Sekolah Permata Insani Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, dan SMAN 13 Kabupaten Tangerang, Banten.

Dalam kunjungan tersebut, Muhadjir mengimbau, peserta didik baru untuk memanfaatkan pengenalan lingkungan sekolah sebaik-baiknya. Begitu juga dengan para senior dan guru untuk membuat siswa baru merasa nyaman sebelum memulai kegiatan belajar mengajar(KBM).

“Kesan pertama itu akan sangat menentukan keadaan anak-anak berikutnya ketika berada di sekolah ini. Kalau ketika datang disambut dengan ramah dengan senior-senior, kakak kelasnya kemudian dia juga mendapatkan sambutan yang baik. Diperlakukan dengan baik, Insyaallah mereka akan kerasan, mereka akan nyaman, gembira, akan bahagia dan itu akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar,” kata Muhadjir saat membuka pelaksanaan Hari Pertama Masuk Sekolah di SD Muhammadiyah 5 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/7/2019).

Selanjutnya, Muhadjir meminta para guru untuk mencermati dan mengawasi setiap peserta didik. Pasalnya, setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Maka, harus diberi perhatian secara khusus per individu. Dalam hal ini, jangan sampai guru mempunyai pandangan negatif terhadap anak didiknya.

“Setiap anak pasti punya kehebatannya yang terpendam. Tugas guru adalah

menggali kehebatan itu dan kemudian digunakan untuk mengantar anak itu ke cita-cita sesuai dengan kemampuan yang didapatkan. Di sini semua tidak ada anak bodoh. Semua adalah anak cerdas, anak pintar. Apakah bisa digali kecerdasannya, kepintarannya itu tergantung guru,” ujar mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Lanjutnya, para guru adalah yang paling bisa menentukan masa depan anak-anak. “Insyaallah kalau gurunya bekerja dengan sungguh-sungguh dengan ikhlas, maka anak-anak ini akan menjadi bagian jadi amal saleh jariyah para guru-guru. Kalau anak-anak ini berhasil berhasil di mana bapak-ibu ikut mengukir kepribadian dan karakter anak itu, maka sampai anak itu dewasa akan menjadi amal bapak-ibu guru,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Muhadjir juga mengapresiasi HPS sekolah Muhammadiyah yang menerapkan adanya kakak dan adik asuh. Kata dia, hadirnya kakak asuh untuk membina dan melindungi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurut Muhadjir, hal tersebut merupakan cara yang terbaik untuk para seniornya

diajari rasa bertanggung jawab untuk membina mengantar adik-adiknya. Sementara, adik-adiknya juga selama berada di sekolah akan ada yang melindungi, mengawasi kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Senior mohon diasuh adik-adiknya jadi pelindung dan pengawas. Kalau ada yang mengganggu, berikan perlindungan. Pada akhirnya kalau sejak dini sudah diberi tanggung jawab,” pungkasnya.

Meski begitu, Muhadjir juga meminta peran dari orang tua murid. Kata dia, sekolah

adalah titipan. Maka yang paling menentukan adalah keluarga. Karena itu, orang tua harus berperan aktif seperti tidak segan-segan mengoreksi apabila sekolah tidak apik terhadap putra-putrinya.

 

Sumber :

https://41914110003.blog.mercubuana.ac.id/sejarah-bandung-jawa-barat/