LEARNING TO LEAD IN 5.267 FEET

LEARNING TO LEAD IN 5.267 FEET

LEARNING TO LEAD IN 5.267 FEET

LEARNING TO LEAD IN 5.267 FEET
LEARNING TO LEAD IN 5.267 FEET

Abstrak

Studi ini menguji pengembangan kepemimpinan mahasiswa MBA yang terdaftar di sebuah pelatihan/kursus Perilaku berorganisasi. Mahasiswa yang terdaftar baik di bagian kelas dalam ruangan maupun bagian yang termasuk komponen pelatihan luar ruangan yang intensif yang disebut Leadership on the Edge (Kepemimpinan di Ujung). Hasil dari Leadership Practices Inventory (Inventaris Praktek Kepemimpinan) milik Kouzes dan Posner (2003) menunjukkan bahwa mahasiswa di bagian pelatihan luar ruangan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dalam praktek kepemimpinan selama semester pelatihan. Komentar yang tercermin dari siswa-siswa di bagian luar ruangan mengindikasikan hal itu merupakan pengalaman perubahan personal yang tidak seperti persaingan di dalam kelas. Implikasi untuk pendidik kepemimpinan akan didiskusikan.

Pendahuluan

Ada bukti yang didokumentasikan dengan baik bahwa keterampilan kepemimpinan penting bagi mahasiswa MBA. Pada studi Graduate Management Admission Council tahun 2009, 3.392 lulusan MBA menilai interpersonal skills(keterampilan interpersonal) esensial bagi kepemimpinan yang efektif (lihat Whetton & Cameron, 2007) sebagai keterampilan paling bernilai yang mereka gunakan dalam pekerjaan mereka saat itu. Rangkaian keterampilan ini dulu adalah yang paling bernilai tanpa menghiraukan level organisasi (pegawai baru, pegawai menengah, senior ataupun eksekutif). Pekerja dan perekrut berbagai pendapat ini. Pekerja menilai atribut keterampilan dan kepemimpinan interpersonal sebagai kriteria paling penting pertama dan ketiga untuk memilih dan mempekerjakan lulusan MBA (Graduate Management Admission Council, 2007). Perekrut melaporkan soft skill seperti kepemimpinan adalah sifat paling diinginkan dalam diri lulusan MBA (Rubin & Dierdorff, 2009).

            Sekolah bisnis, terutama program MBA, dibutuhkan untuk mengembangkan kompetensi spesifik diasosiasikan dengan peran kepemimpinan dan manajerial (The Association to Advance Collegiate School of Business, 2010). Bagaimanapun, universitas-universitas telah dikritik karena tidak menyiapkan lulusan mereka terhadap tantangan yang diasosiasikan dengan posisi kepemimpinan (Ready, Vicere & White, 1993; Rubin & Dierdorff, 2009). Secara spesifik, orang-orang yang memfokuskan kompetensi dilaporkan sebagai yang paling sering mengkritik dengan mempraktekkan para manajer yang diterima jumlahnya paling sedikit dalam cakupan kebutuhan program MBA (Rubin & Dierdorff, 2009). Keterampilan, kepemimpinan dan komunikasi interpersonal telah diidentifikasikan sebagai “komponen efektif paling akhir dari kurikulum bisnis” (Management Education Task Force, 2002, p. 19). Rynes, Trank, Lawson, dan Iles (2003) mengacu pada defisiensi ini sebagai “krisis legimitasi” pendidikan manajemen (p. 1)

Baca Juga :