KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

No comment

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

         Perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau duapihak, berdasarkana mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal daripihak yang lain, dan pihak yang lain  berkewajiban untuk memenuhituntutan itu.

        Pihak yang berhak menuntut sesuatu dinamakan kreditur atau siberpiutang, sedangkan   pihak    yang berkewajiban memenuhi tuntutandinamakan  debitur atau si berutang. Tuntutan  atau  kewajiban tersebut lazimnya disebut  sebagai  prestasi.

Pasal 1234 KUHPerdata :

Tiap-tiap  perikatan  adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu.”

Menurut Pasal  1234  KUHPerdata prestasi itu dibedakan atas :

  1. Memberikansesuatu
  2. Berbuatsesuatu
  3. Tidakberbuat sesuatu

     Dalam hal debitur  atau si berutang tidak memenuhi  kewajibannya atautidak memenuhi   kewajibannya    sebagaimana mestinya  dan tidakdipenuhinya kewajiban

itu karena ada unsur salah padanya,  maka ada akibat-akibat hukum yangbisa menimpa dirinya yaitu :

  • Pertama-tama,  sebagai yang disebutkan dalam pasal 1236 KUHPerdata :

si berutang  adalah  wajib  memberikan

ganti biaya, rugi dan bunga kepada si berpiutang,  apabia  ia telah membawa dirinya   dalam   keadaan   tak   mampu untuk menyerahkankebendannya, atau telah tidak merawat sepatutnya guna menyelamatkannya”

dan 1243 KUHPerdata  :

Penggantian    biaya,   rugi   dan   bunga karena tak dipenuhinya suatuperikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya”

        Kreditur berhak untuk menuntut penggantian kerugian,  yang berupaongkos- ongkos, kerugian dan bunga. Akibat hukum seperti ini  menimpadebitur baik  dalam  perikatan untuk memberikan sesuatu, untuk melakukansesuatu ataupun tidak melakukan sesuatu. maka kreditur berhak untukmenuntut pembatalan perjanjian, dengan atau tanpa disertai  dengan tuntutan  ganti rugi.  Tetapi  kesemuanya itu  tidak mengurangi  hak darikreditur untuk tetap menuntut pemenuhan.

Apabila salah satu pihak dalam perikatan merasa  dirugikan  oleh  pihak lainnya  dalam  perikatan   tersebut, maka hukum memberikan wahana bagipihak yang merasa dirugikan  tersebut untuk melakukan gugatan ganti rugi.

Pembahasan

  1. Pengertian Kerugian

        Pengertian  kerugian   menurut  R. Setiawan,   adalah  kerugian  nyata yang terjadi karena wanprestasi. Adapun besarnya kerugian    ditentukan   dengan    membandingkan  keadaan  kekayaan   setelah wanprestasi dengan keadaan jika sekiranya tidak terjadi wanprestasi.

       Pengertian  kerugian yang lebih luas dikemukakan oleh Mr. J. H.Nieuwenhuis sebagaimana yang   diterjemahkan oleh Djasadin   Saragih,  pengertian kerugian adalah  berkurangnya  harta kekayaan  pihak yang satu,yang disebabkan oleh perbuatan (melakukan atau membiarkan) yangmelanggar  norma oleh pihak yang lain. Yang dimaksud  denganpelanggaran norma oleh Nieuwenhuis di  sini  adalah berupa wanprestasidan perbuatan melawan hukum.

  1. Unsur-Unsur Ganti Rugi

Dalam    pasal   1246   KUHPerdata

menyebutkan :

“Biaya,   rugi  dan  bunga  yang  oleh  si berpiutang boleh dituntut akan penggantiannya,  terdirilah  pada umumnya  atas  rugi  yang  telah dideritanya dan untung yang sedianya harus dapat dinikmatinya, dengan tak mengurangi pengecualian-pengecualian serta perubahan-perubahan yang akan disebut di bawah ini.”

Menurut Abdulkadir Muhammad, dari pasal 1246 KUHPerdata tersebut, dapat ditarik unsur-unsur ganti rugi adalah sebagai berikut :

(a) Ongkos-ongkos   atau biaya-biaya   yang telah dikeluarkan (cost),misalnya ongkos cetak, biaya meterai, biaya iklan.

(b)Kerugian karena kerusakan, kehilangan ata  barng kepunyaan kreditur akibat kelalaian debitur (damages).

(c) Bunga atau keuntungan yang diharapkan (interest).  Karena debitur  lalai,kreditur kehilangan keutungan yang diharapkannya.

        Purwahid Patrik  lebih memperinci lagi unsur-unsur  kerugian. MenurutPatrik, kerugian terdiri dari dua unsur :

  1. a.Kerugianyang nyata diderita (damnum emergens) meliputi biaya dan rugi
  2. Keutunganyang tidak peroleh (lucrum cessans) meliputi bunga.

     Kadang-kadang  kerugian hanya merupakan kerugian yang  diderita saja, tetapi kadang-kadang   meliputi kedua-dua unsur tersebut.

  1. Sebab-Sebab Kerugian

       Dari pengertian  kerugian pada subbab sebelumnya dapat   kita  lihat bahwa kerugian adalah suatu pengertian   kausal, yakni     berkurangnya  harta    kekayaan (perubahan keadaan berkurangnya harta kekayaan), dandiasumsikan  adanya suatu peristiwa  yang  menimbulkanperubahan tersebut.   Syarat     untuk   menggeserkan kerugian  itu kepada pihak lain oleh pihak

yang  dirugikan  adalah  bahwa  kerugian tersebut disebabkan  olehpelanggaran suatu norma oleh pihak lain tersebut.

Menurut  Nurhayati    Abas,    ganti kerugian harus memenuhi beberapasebab :

  1. a.Harus ada hubungan kausal
  2. Harusada adequate
  1. Wujud Ganti Rugi

       Pada  umumnya  ganti  rugi diperhitungkan  dalam  sejumlah  uangtertentu.  Hoge Raad malahan  berpendapat, bahwa penggantian “ongkos,kerugian, dan bunga” harus dituangkan dalam sejumlah uang tertentu.Namun jangan menjadi rancu; kreditur bisa saja menerima penggantian in natura  dan membebaskan   debitur. Yang tidak dapat adalah bahwadebitur menuntut kreditur agar menerima  ganti rugi dalam wujud laindaripada sejumlah uang.

        Pitlo   berpendapat    bahwa  undang-undang  kita tidak memberikandasar yang cukup  kuat untuk  kita  katakan, bahwa tuntutan ganti rugi hanya dapat dikemukakan dalam sejumlah uang tertentu Alasan  pokoknyasebenarnya adalah bahwa berpegang pada prinsip seperti

itu banyak kesulitan-kesulitan  dapat dihindarkan. Anehnya, kalau ganti rugiitu berkaitan dengan onrechtmatige daad, maka syarat “dalam wujudsejumlah uang” tidak berlaku, karena Hoge  Raad  dalam kasus seperti itumembenarkan tuntutan ganti rugi dalam wujud lain.

        Walaupun demikian hal itu tidak berarti, bahwa untuk setiap tuntutan ganti rugi kreditur harus membuktikan  adanya kepentingan  yangmempunyai  nilai  uang. Hal itu akan tampak sekali pada perikatan untuk tidak melakukan sesuatu, dimana pelanggarannya  biasanya   menimbulkankerugian yang sebenarnya tidak dapat dinilai dengan uang.

Sumber : https://chicagobearsjerseyspop.com/