Kepemimpinan bagi Orang Awam

Kepemimpinan bagi Orang Awam

Kepemimpinan bagi Orang Awam

Kepemimpinan bagi Orang Awam
Kepemimpinan bagi Orang Awam

Abstrak

Kursus puncak dalam kepemimpinan menyediakan mahasiswa kesempatan untuk sintesis lebih dulu pengetahuan tentang variasi aspek kepemimpinan. Artikel ini menggambarkan proyek Leadership for Dummies, yang dapat digunakan sebagai pengalaman puncak bagi kepemimpinan umum. Berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti psikologi, Gardner (2008) mengidentifikasikan 5 akal pikiran individu yang harus dikembangkan: akal pikiran yang disiplin (menjadi ahli dalam satu area), akal pikiran yang sintesis (mengumpulkan informasi dari banyak sumber dan mengkombinasikan informasi dengan secara berarti), akal pikiran pencipta (membangun kotak baru dan berpikir diluar kotak yang lama), akal pikiran yang hormat (menilai perbedaan satu sama lainnya), dan akal pikiran beretika (melakukan apa yang benar). Tugas Leadership for Dummies membiarkan mahasiswa untuk mengunakan disiplin, sintesis, dan menciptakan akal pikiran mereka untuk mengembangkan cara baru berpikir yang diperlukan oleh pemimpin masa depan. Bukti anekdot menyatakan tugas membantu siswa membuat pengalaman mereka selama menuntut ilmu lebih berarti selama mengambil kepemilikian pembelajaran mereka sendiri.

Pendahuluan dan Kerangka Konseptual

Dengan literatur pendidikan kepamimpinan, tujuan pendidik kepemimpinan telah didokumentasikan dengan baik. Menurut Huber (2002), “Sebagai pendidik kepamimpinan, kami menolong orang-orang untuk mengerti apa artinya menjadi pemimpin” (p. 31). Pada akhirnya, kami umumnya berharap bahwa pada atau mendekati akhir pendidikan sarjana mereka, siswa kami mampu mensintesis apa yang telah mereka pelajari tentang berbagai aspek kepemimpinan. Banyak di pendidikan lebih tinggi memasukkan tugas akhir dan kursus kedalam kurikulum untuk memenugi tujuan ini. Faktanya, Morgan, Rudd, dan Kaufman (2004) menemukan bahwa fakultas kepemimpinan menyadari pengalaman puncak untuk menjadi komponen esensial dari program kepemimpinan. Lebih jauh lagi, Cannon, Gifford, Stedman, dan Telg (2010) mencatat bahwa pendidik kepemimpinan tidak seharusnya melihat pentingnya menyediakan siswa (mahasiswa) kepemimpinan dengan pengalaman puncak yang berarti dan bernilai. Sementara pengalaman puncak telah didefinisikan dalam banyak cara, banyak yang mencatat bahwa kursus puncak menyediakan siswa kesempatan untuk mensintesis (menumpulkan) pengalaman terdahulu mereka dan membuat koneksi antara berbagai bagian pendidikan mereka (AAC, 1985; Schmid, 1993; Steele, 1993).

            Selama beberapa tahun, banyak yang telah menganjurkan kebutuhan siswa untuk mengembangkan kemampuan sistesis yang kuat, seperti yang berkembang dalam kursus dan tugas puncak (akhir). Menurut Cleveland (2002), “Masalahnya adalah, sistem pendidikan menyeluruh kita masih mencocokkan lebih kepada pengkategorian dan menganalisis jejak-jejak pengetahuan daripada untuk memperlakukan mereka secara bersamaan – walaupun itu adalah orang-orang  yang belajar bagaimana untuk memperlakukan mereka bersamaan siapa yang akan menjadi pemimpin generasi selanjutnya” (p. 215).

            Pink (2006) lebih jauh menyatakan bahwa kesuksesan di dunia sekarang ini lebih membutuhkan akal pikiran yang kreatif atau artistik daripada apa yang sebelumnya dibutuhkan. Menurut Pink, “Beberapa dekade terakhir telah menjadi milik orang-orang tertentu yang memiliki akal pikiran tertentu – programer komputer yang mampu membobol kode, pengacara yang mampu mengarang kontrak, MBA yang mampu menerka angka. Namun, kunci menuju kerajaan tersebut adalah dengan mengubah penanganan. Masa depan menjadi milik orang-orang dengan tipe yang sangat berbeda, dengan akal pikiran yang sangat berbeda pula – kreator dan penegas, pengenal pola, dan pembuat arti” (p. 1). Dia menyatakan beberapa orang sebagai “artis, penemu, desainer, pembaca cerita, pemberi kepedulian, penghibur, pemikir gambaran besar – yang sekarang akan mengambil ganjaran/upah terkaya masyarakat dan membagi kebahagiaan terbesarnya” (p. 1).

Berdasarkan pada pekerjaannya sebagai peneliti psikologi, Gardner (2008) mempublikasikan 5 Minds for the Future yang mana dia mengidentifikasikan “akal pikiran” yang dia percaya bahwa individu harus berkembang untuk memerintah sebagai premiun di tahun-tahun ke depan. Akal pikiran ini adalah (a) akal pikiran yang disiplin, (b) akal pikiran yang sintesis, (c) akal pikiran pencipta, (d) akal pikiran yang penuh hormat, dan (e) akal pikiran beretika. Dibawah ini adalah deskripsi singkat tiap-tiap “akal pikiran” ini.

  • “Akal pikiran yang disiplin telah menguasai setidaknya satu cara berpikir — sebuah mode distinctive conition yang brkarakter scholarly spesifik disiplin, keterampilan, atau profesi” (Gardner, 2008, p. 3)
  • “Akal pikiran yang sintesis mengambil informasi dari sumber yang terpisah, mngerti dan mengevaluasi informasi tersebut secara objektif, dan menempatkannya bersama dengan jalan membuat masuk akal bagi penyatu dan juga bagi orang lain” (Gardner, 2008, p. 3)
  • “Terbangun dari disiplin dan sintesis, Akal pikiran pencipta mendobrak landasan baru. Ia menempatkan ide baru seterusnya, mengajukan pertanyaan tidak dikenal, menyebabkan timbulnya cara terbaru dalam berpikir, muncul pada jawaban tak terduga” (Gardner, 2008, p. 3)
  • “Akal pikiran yang penuh hormat mencatat dan menyambut perbedaan antara incividu manusia dan antara kelompok manusia, mencoba untuk mengerti paham “orang lain” ini dan mencoba untuk bekerja secara efektif dengan mereka” (Gardner, 2008, p. 3)
  • Akal pikiran beretika mempertimbangkan lingkungan pekerjaan seseorang dan kebutuhannya serta hasrat terhadap masyarakat dimana seseorang tinggal” (Gardner, 2008, p. 3)

Akal pikiran Gardner terdesian sebagai kerangka konseptual bagi perkembangan tugas akhir untuk membantu siswa mengembangkan cara baru berpikir yang diperluakan oleh pemimpin masa depan.

Sumber : http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/comment/view/516/1602/66105