Indonesia dan lima negara Asia ‘hadapi ancaman banjir laut tahunan pada 2050’

Indonesia dan lima negara Asia ‘hadapi ancaman banjir laut tahunan pada 2050’

Indonesia dan lima negara Asia ‘hadapi ancaman banjir laut tahunan pada 2050’

Berjuta-juta penduduk bumi akan terkena risiko banjir akibat peningkatan ketinggian air laut yang disebabkan perubahan iklim pada abad ini.

Ini merupakan kesimpulan satu penelitian yang diadakan oleh Climate Central, sebuah organisasi nonpemerintah yang bermarkas di Amerika Serikat.

Menurut lembaga ini, daerah-daerah yang akan berada di bawah ketinggian air laut pada tahun 2100 akan dihuni oleh sekitar 190 juta orang.

Hari ini, menurut perkiraan lembaga ini, sekitar 110 juta orang tinggal di kawasan itu – yang umumnya terlindung oleh dinding, tanggul dan berbagai benteng pantai lainnya.

Negara mana saja yang terancam kekeringan air?
Lima hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengurangi pemanasan global
Bongkahan es raksasa lepas di Greenland

Hak atas foto Getty Images

Perkiraan masa depan selama ini berlandaskan asumsi pemanasan global yang moderat, maka gangguan air laut diperkirakan terbatas.

Penyelidikan Climate Central yang diterbitkan di jurnal Nature

Communications, mengkoreksi bias dalam paket data ketinggian yang dipakai untuk mengukur seberapa jauh kawasan pedalaman yang akan tergenang akibat perubahan cuaca.
Image caption Perkiraan berdasarkan asumsi emisi gas kaca tetap berlangsung tinggi.

Paket data ini berasal dari misi pesawat ulang alik luar angkasa Endeavour yang menggunakan radar di tahun 2000 untuk memproduksi peta ketinggian di seluruh dunia.

Dari sini dibuat model tiga dimensi Planet Bumi yang menjadi data yang paling banyak digunakan untuk keperluan ini.

Namun tim dari Climate Central, Scott Kulp dan Benjamin Strauss, mengatakan data itu bias yang membuat beberapa daratan tampak lebih tinggi dari yang sebenarnya.

Hal ini terjadi karena di lokasi-lokasi tersebut terdapat tetumbuhan

tebal semisal hutan, dan radar Endeavour keliru membacanya sebagai permukaan tanah.

Kulp dan Strauss menggunakan perangkat lebih mutakhir

berupa Lidar (pendeteksi dengan sinar laser) untuk memasukkan data ke komputer yang kemudian mengkoreksi kekeliruan digital elevation model (DEM) dari data sebelumnya.

 

Baca Juga :