HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU HUKUM

HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU HUKUM

Antara Ilmu Hukum Dan Ilmu Akhlak Memiliki Pokok Pembicaraan Yang sama, yaitu perbuatan manusia. Tujuanya pun hampir sama, yaitu mengatur perbuatan manusia demi terwujudnya keserasian, keselarasan, keselamatan, dan kebahagiaan. Tata cara manusia bertingkah laku, terdapat pada kaidah-kaidah hukum dan akhlak.[8]

            Namun demikian, ruang lingkup ilmu akhlak lebih luas. Dalam hal ini, ilmu aklak memerintahkan perbuatang yang bermanfaat dan melarang perbuatan yang membahayakan. Adapun ilmu hukum tidak demikian, banyak perbuatan yang jelas-jelas bermanfaat, namun tidak diperintahkan dalam ilmu hukum. Sebagai contoh, berbuat baik pada fakir miskin, dan perlakuan baik antara suami dan istri. Sebaliknya, terdapat beberapa perbuatan yang jelas-jelas tidak baik, tetapi tidak dicegah  dalam ilmu hukum, misalnya dusta dan dengki.

            Ilmu hukum tidak membahas hal-hal tersebut, karena tidak mempunyai kapasitas untuk memerintah atau melarang. Ilmu hukum berbicara sesuai aturan dan ketentuan hukumnya, suatu perbuatan dianggap melanggar aturan hukum atau tidak. Jika tidak melanggar ketentuan, hukum membolehkanya, walaupun mungkin bertentangan dengan akhlak.

            Hukum Islam memiliki lingkup pembahasan lebih lengkap dibanding ilmu akhlak. Dalam hal ini, semua perbuatan yang dinilai baik atau buruk oleh akhlak, akan mendapat kepastian hukum tertentu. Misalnya, menyingkirkan duri dari jalan raya, dinilai sebagai perbuatan yang baik, sementara hukum positif menilainya tidak berarti apa-apa. Dalam hukum islam, ihwal tersebut dinilai sebagai sesuatu yang diaanjurkan (mandub).

            Dengan demikian, pertalian antara hukum islam dan akhlak, lebih erat dibandingkan dengan hukum positif atau etika filsafat. setiap perbuatan yang dinilai oleh akhlak, pasti mendapatkan kepastian hukum islam, berupa salah satu dari lima kategori, yaitu wajib, sunnah, mubah, haram, dan makruh. Sebaliknya, untuk segala perbuatan yang diputus hukumnya oleh hukum islam, akan dinilai oleh akhlak tentang baik buruknya. Ini adalah manifestasi dari luasnya ruang lingkup hukum islam yang menilai setiap perbuatan.

            Di samping itu, ilmu hukum hanya mempelajari tingkah laku dari segi luasnya saja, sedangkan ilmu akhlak melihatnya secara utuh; dari sisi luar dan batin manusia. Ilmu akhlak mengatur agar manusia memiliki perilaku yang baik dan benar, tidak melanggar hukum dan peraturan yang berlaku. Dengan demikian, akan tercipta kehidupan masyarakat yang damai, tentram, serta terwujud kebahagiaan manusia, secara lahir dan batin.

  1. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU TASAWUF

Tasawuf ialah usaha melatih jiwa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan duniawi untuk bertaqarub kepada tuhan. Dengan demikian, jiwa manusia akan menjadi bersih, mencerminkan akhlak mulia, dan menemukan kebahagiaan spiritual.[9]

            Dalam kajian tasawuf, terdapat satu asas yang disepakati, yaitu tasawuf ialah moralitas yang berasaskan Islam. Dalam hal ini, seluruh ajaran islam dari segala aspeknya adalah prinsip moral. Bertasawuf adalah manifestasi dari pengalaman nilai-nilai luhur akhlaq al-karimah kepada Allah, dalam upaya bertaqarub ila Allah.

            Jika tasawuf dipahami sebagai ilmu tentang filsafat hidup, ilmu tentang bagaimana mengelola hati agar menjadi baik, jelaslah hubungan keterkaitan antara akhlak dengan tasawuf. Hubungan ini semakin tampak jelas pada aspek terkait dengan akhlak bathini, semisal ikhlas dalam beribadah, tawakal, dan sabar, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.