HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN FILSAFAT

HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN FILSAFAT

Menurut Al-Farabi (w. 950 M), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud, dan bertujuan menyelidiki hakikatnya.[4] sementara menurut Immanuel Kant (1725-1804), filsafat merupakan ilmu pokok dari segala ilmu pengetahuan, yang mencakup empat persoalan, yaitu a) apa yang dapat kita ketahui? (Dijawab oleh metafisika), b) apa yang boleh kita kerjakan? (Dijawab oleh etika, akhlak), c) sampai dimana penghargaan kita? (Dijawab oleh agama), dan d) apa yang dinamakan manusia? (Dijawab antropologi).

            Objek kajian filsafat meliputi, alam dengan segala isinya; manusia, perilaku, dan sikapnya; serta mengenal eksistensi Allah. Adapun objek kajian ilmu akhlak, adalah perilaku manusia tersebut, dapat diketahui sebagai perbuatan baik atau buruk melalui kajian ilmu filsafat, dengan dasar-dasar ajaran agama.

            Pada masa lampau, ketika ilmu-ilmu sangat terbatas, ternyata filsafat menaungi semua ilmu, demikian juga filsuf pada masa itu, mampu menguasai semua ilmu. Pada saat itu, objek kajian filsafat terbagi menjadi dua bagian, pertama, hal-hal yang tidak terdapat intervensi manusia, kecuali yang berkaitan dengan perbuatan manusia (filsafat teoretis). Kedua, hal-hal yang bergantung pada usaha manusia, yaitu tindakan-tindakan manusia (filsafat praktis).

Filsafat teoretis (al-hikmah an-nazhariyyah) terbagi dalam tiga bagian.

  1. Filsafat ketuhanan (al-hikmah al-Ilahiyyah), yaitu yang berkaitan dengan aturan-aturan umum tentang eksistensi, awal mula eksistensi, dan akhir eksistensi.
  2. Fisika (thabi’iyat) yang terbagi dalam beberapa bagian lagi.
  3. Matematika yang juga terbagi dalam beberapa bagian.

Adapun filsafat praktis al-hikmah al-amaliyyah terbagi dalam tiga bagian.

  1. Akhlak yang menjadi penyebab bagi kebahagiaan atau kesesatan manusia.
  2. Manajemen rumah tangga (tadbir al-manzil) dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarga.
  3. Politik dan manajemen negara.

            Antara ilmu filsafat dan ilmu akhlak pada awalnya saling berkaitan. Bahkan karya-karya khusus dibidang akhlak juga turut berbicara mengenai manajemen rumah tangga dan politik negara. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ilmu akhlak merupakan cabang filsafat praktis. Namun demikian, karena sekarang jumlah ilmu sedemikian banyak, ilmu akhlak berdiri menjadi ilmu tersendiri.

  1. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN PSIKOLOGI

Psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa, dan beradab[5]. Menurut Ahmad Amin, psikologi menyelidiki dan membicarakan kekuatan perasaan, paham, mengenal, ingatan, kehendak, kemerdekaan, khayal, rasa kasih, kenikmatan, dan rasa sakit. Sementara itu, akhlak membutuhkan sesuatu yang dibahas dalam psikologi. Bahkan psikologi merupakan pengantar bagi akhlak.[6]

            Psikologi mempelajari tingkah laku manusia selaku anggota masyarkat, sebagai manifestasi dan aktifitas rohaniah, terutama yang ada hubunganya dengan tingkah laku. Selain itu, psikologi juga membahas interaksi antara satu orang dengan lainya dalam masyarakat. Adapun ilmu akhlak memberikan gambaran kepada manusia tentang perbuatan yang baik dan yang buruk, perbuatan yang terpujji dan tercela, perbuatan yang halal dan haram.

https://sewamobilbali.co.id/tiny-guardians-apk/