Bentuk-Bentuk Kerugian

No comment

Bentuk-Bentuk Kerugian

Bentuk-Bentuk Kerugian

Bentuk-Bentuk Kerugian

Wujud Ganti Rugi

       Pada  umumnya  ganti  rugi diperhitungkan  dalam  sejumlah  uangtertentu.  Hoge Raad malahan  berpendapat, bahwa penggantian “ongkos,kerugian, dan bunga” harus dituangkan dalam sejumlah uang tertentu.Namun jangan menjadi rancu; kreditur bisa saja menerima penggantian in natura  dan membebaskan   debitur. Yang tidak dapat adalah bahwadebitur menuntut kreditur agar menerima  ganti rugi dalam wujud laindaripada sejumlah uang.

        Pitlo   berpendapat    bahwa  undang-undang  kita tidak memberikandasar yang cukup  kuat untuk  kita  katakan, bahwa tuntutan ganti rugi hanya dapat dikemukakan dalam sejumlah uang tertentu Alasan  pokoknyasebenarnya adalah bahwa berpegang pada prinsip seperti

itu banyak kesulitan-kesulitan  dapat dihindarkan. Anehnya, kalau ganti rugiitu berkaitan dengan onrechtmatige daad, maka syarat “dalam wujudsejumlah uang” tidak berlaku, karena Hoge  Raad  dalam kasus seperti itumembenarkan tuntutan ganti rugi dalam wujud lain.

        Walaupun demikian hal itu tidak berarti, bahwa untuk setiap tuntutan ganti rugi kreditur harus membuktikan  adanya kepentingan  yangmempunyai  nilai  uang. Hal itu akan tampak sekali pada perikatan untuk tidak melakukan sesuatu, dimana pelanggarannya  biasanya   menimbulkankerugian yang sebenarnya tidak dapat dinilai dengan uang.

Bentuk-Bentuk Kerugian

      Bentuk-bentuk  kerugian dapat  kita bedakan atas dua bentuk yakni :

  1. a.Kerugianmateriil
  2. Kerugianimmateriil

Undang-undang     hanya   mengatur penggantian kerugian yang bersifatmateriil. Kemungkinan terjadi bahwa kerugian itu menimbulkan kerugianyang  immateriil, tidak berwujud, moril,  idiil,  tidak  dapat dinilai denganuang, tidak ekonomis, yaitu berupa sakitnya badan, penderitaan  batin, rasatakut, dan sebagainya.

Kesimpulan

        Ganti   rugi  sebagai  akibat pelanggaran  norma, dapatdisebabkan karena wanprestasi   yang merupakan perikatan bersumber perjanjian  dan perbuatan melawan hukum yang merupakan perikatan bersumber undang-undang.  Gantirugi sebagai akibat wanprestasi yangdiatur di  dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,  dapat jugadiberlakukan bagi ganti rugi  sebagai akibat  perbuatan melawan hukum. Mengingat adanya bentuk kerugian materiil dan imateriil, maka wujudganti rugi dapat berupa natura  (sejumlah  uang) maupun innatura.

Baca Juga :