Aspek Imunologik Air Susu Ibu.

Aspek Imunologik Air Susu Ibu.

Aspek Imunologik Air Susu Ibu.

Aspek Imunologik Air Susu Ibu.
Aspek Imunologik Air Susu Ibu.

Imunoglobulin adalah suatu golongan protein yang mempunyai daya zat anti terhadap infeksi. Di dalam tubuh manusia terdapat 5 macam imunoglobulin.
1. Imunoglobulin G.
IgG sudah terbentuk pada kehamilan bulan ketiga, dapat menembus plasenta pada waktu bayi lahir kadarnya sudah sama dengan kadar IgD ibunya. Fungsi dari pada IgG ini ialah anti bakteri, anti jamur, anti virus dan anti toksik.
2. Imunoglobulin M.
IgM mulai dibentuk pada kehamilan minggu ke-14 dan mencapai kadar seperti orang dewasa pada umur 1-2 tahun. Fungsi dari pada IgM ini ialah untuk aglutinasi.
3. Imunoglobulin A.
IgA sudah dibentuk pula oleh janin tetapi jumlahnya masih sangat sedikit. Ada 2 macam IgA ialah serum (di dalam darah) dan IgA sekresi (berasal dari sel mokosa) yang selanjutnya disebut SigA. IgA serum mencapai kadar seperti pada orang dewasa pada usia 12 tahun, sedangkan SigA sudah mencapai puncaknya pada usia 1 tahun.
4. Imunoglobulin D.
IgD belum banyak diketahui, baik pembentukannya maupun fungsinya.
5. Imunoglobulin E.
IgE belum diketahui tetapi diduga berfungsi seperti anti alergik.
6. Perpindahan Immunoglobulin dari Ibu ke Bayi.
Terdapat bukti yang nyata bahwa ada hubungan yang erat antara imunoglobulin ibu dan anak, baik pada manusia maupun pada binatang menyusui (mamalia). Selama janin masih didalam kandungan, janin telah mendapat imunoglobulin dari pada ibunya melalui plasenta, terutama imunoglobulin G, oleh karena itulah janin tidak pernah sakit (infeksi) selama didalam kandungan (Sunoto 2001).
Menurut Kamalia (2005), Selain imunoglobulin, ASI mengandung pula faktor-faktor kekebalan seperti berikut ini:
1. Faktor Bifidus
Merupakan suatu karbohidrat yang mengandung nitrogen, diperlukan untuk pertumbuhan bakteri Lactobacillus bifidus. Dalam usus bayi yang diberi ASI, bakteri ini mendominasi flora bakteri dan memproduksi asam laktat dari laktosa. Asam laktat ini akan menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan parasit lainnya
2. Faktor Laktoferin
Suatu protein yang mengikat zat besi ditemukan terdapat dalam ASI. Zat besi yang terikat tersebut tidak dapat digunakan oleh bakteri-bakteri usus yang berbahaya, yang membutuhkannya untuk pertumbuhan. Oleh karena itu, pemberian zat besi tambahan kepada bayi yang disusui harus dicegah, karena mungkin dapat mempengaruhi daya perlindungan yang diberikan laktoferin
3. Faktor Laktospirosidase
Merupakan enzim yang terdapat dalam ASI dan bersama-sama dengan peroksidase hydrogen dan ion tiosinat membantu membunuh streptokokus
4. Faktor Anti Stafilokokus
Faktor tersebut merupakan asam lemak yang melindungi bayi terhadap penyerbuan stafilokokus
5. Faktor Sel -Sel Fagosit
Merupakan pemakan bakteri yang bersifat patogen.
6. Sel Limfosit dan Makrofag
Berfungsi untuk mengeluarkan zat antibodi untuk meningkatkan imunitas terhadap penyakit.
7. Lisozim
Lisozim merupakan salah satu enzim yang terdapat dalam ASI sebanyak 6-300 mg/100 ml, dan kadarnya bisa naik hingga 3000-5000 kali lebih banyak dibandingkan dengan kadar lisozim dalam susu sapi. Enzim demikian memiliki fungsi bakteriostatik terhadap enterobakteria dan kuman gram negatif mungkin juga berperan sebagai pelindung terhadap berbagai macam virus.
8. Interferon
Berfungsi menghambat pertumbuhan virus
2.1.7. Penggunaan ASI secara Tepat
Menurut Kamalia (2005), adalah bayi tampak tenang, badan bayi menempel pada perut ibu, mulut bayi terbuka lebar, dagu menempel pada payudara ibu, sebagian besar kalang payudara masuk ke dalam mulut bayi, puting susu ibu tidak terasa nyei, telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus, kepala tidak menengadah
ASI betapapun baik mutunya sebagai makanan bayi, tapi belumlah merupakan jaminan bahwa gizi selalu baik, kecuali apabila ASI tersebut diberikan secara tepat dan benar. Ibu tidak dapat melihat berapa banyak ASI yang telah masuk ke perut bayi (Kamalia, 2005).
Untuk mengetahui banyaknya produksi ASI, beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai patokan untuk mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak yaitu:
1. Air Susu Ibu yang banyak dapat merembes keluar melalui puting
2. Sebelum disusukan payudara merasa tegang
3. Berat badan naik dengan memuaskan sesuai dengan umur,
4. Air Susu Ibu yang banyak dapat merembes keluar melalui puting
2. Sebelum disusukan payudara merasa tegang
3. Berat badan naik dengan memuaskan sesuai dengan umur,
(Kamalia, 2005).
2.1.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan ASI.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ibu memberikan ASI kepada bayinya antara lain (Kamalia, 2005).
1. Perubahan sosial budaya.
1) Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.
2) Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol.
2. Faktor psikologis
1) Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
2) Tekanan batin
3. Faktor fisik ibu Ibu sakit, seperti mastitis biasanya enggan menyusui bayinya karenapayudaranya terasa nyeri bila digunakan untuk menyusui bayinya.
4. Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI.
5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.
6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjukan penggantian ASI dari susu kaleng.
2.1.9. Pemberian ASI Eksklusif
2.1.9.1. Pengertian pemberian ASI Eksklusif
ASI eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang,,pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan tim (Roesli 2000).
Pemberian ASI eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu minimal 4 bulan dan akan lebih baik lagi apabila diberikan sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat, dan pemberian ASI dapat diteruskan sampai ia berusia 2 tahun (Roesli, 2001).
2.1.9.2. Manfaat Pemberian ASI Eksklusif Bagi Bayi.
Menurut Roesli (2001), manfaat pemberian ASI sangat banyak antara lain:
1. Sebagai Nutrisi Terbaik.
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya. ASI adalah makanan yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan melaksanakan tata laksana menyusui yang tepat dan benar, produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai dengan usia 6 bulan. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat zat kekebalan atau daya tahan tubuh dari ibunya melalui plasenta. Tetapi kadar zat tersebut akan cepat menurun setelah kelahiran bayi. Sedangkan kemampuan bayi membantu daya tahan tubuhnya sendiri menjadi lambat, selanjutnya akan terjadi kesenjangan daya tahan tubuh. Kesenjangan tersebut dapat diatasi apabila bayi diberi ASI sebab ASI adalah cairan yang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, dan jamur.
2. Tidak mudah tercemar
ASI steril dan tidak mudah tercemar, sedangkan susu formula mudah dan sering tercemar bakteri, terutama bila ibu kurang mengetahui cara pembuatan susu formula yang benar dan baik.

3. Melindungi bayi dari infeksi
ASI mengandung berbagai antibodi terhadap penyakit yang disebabkan bakteri, virus, jamur dan parasit yang menyerang manusia..
4. Mudah dicerna
ASI mudah dicerna, sedangkan susu sapi sulit dicerna karena tidak mengandung enzim pencernaan.
5. Menghindarkan bayi dari alergi
Bayi yang diberi susu sapi terlalu dini mungkin menderita lebih banyak masalah alergi, misalnya asma dan alergi.
2.1.10. Minuman Buatan sebagai Pengganti Air Susu Ibu
Betapapun baiknya ASI sebagai makanan bayi dan keberatan para ahli kesehatan anak di seluruh dunia terhadap penggunaan susu sapi sebagai makanan bayi, akan tetapi dalam keadaan tertentu, susu sapi akan sangat diperlukan sebagai minuman buatan untuk bayi. Karena itu, perlulah diketahui dalam keadaan apakah ASI dapat diganti dengan minuman buatan.
Menurut Depkes RI (2007) minuman buatan yang terbuat dari susu hewan terutama susu sapi, dapat diberikan kepada bayi sebagai pelengkap atau sebagai pengganti ASI dalam keadaan sebagai berikut:
a. Air susu ibu tidak keluar sama sekali, dalam keadaan seperti ini satu-satunya makanan yang dapat menggantikan ASI adalah susu sapi.
b. Ibu meninggal sewaktu melahirkan atau waktu bayi masih memerlukan ASI.
c. ASI keluar tetapi jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi bayi karena itu perlu tambahan. Pemberian makanan atau minuman pengganti ASI berbahaya bagi bayi karena saluran pencernaan bayi belum cukup kuat untuk mencernakan makanan atau minuman selain ASI.
Selain karena sulitnya dicerna, bahaya lain dari pemberian susu formula bagi bayi yaitu karena selama penyiapan susu formula ada kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri dan terlalu encernya air susu dapat terjadi. Umumnya sulit untuk memberikan susu formula kepada bayi secara higienis. Namun kemungkinan adanya kontaminasi oleh bakteri dapat berkurang dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Dot botol.
Karena dot botol mudah terkontaminasi, maka sebaiknya dot botol harus terbuat dari bahan yang bermutu tinggi dan tahan terhadap proses pendidihan. Lubang pada dot harus dapat mengeluarkan air susu dengan kecepatan yang tetap (konstan) bila botol dibalikkan.
2. Pencucian alat.
Cuci semua alat makan atau minum bayi segera setelah digunakan, menggunakan air dingin dan sabun atau detergen dengan memakai sikat botol.Dot botol dilumuri dengan garam untuk menghilangkan gumpalan susu. Lalu semuanya dicuci dengan baik.
3. Sterilisasi alat.
Setelah itu sterelisasi dengan air mendidih kemudian letakkan peralatan termasuk dot botol dalam satu wadah yang berisi air sepertiganya, kemudian penuhi dengan air dan didihkan selama 5 menit. Tiriskan dan keringkan, dan simpan dalam keadaan tertutup sampai saatnya digunakan. Apabila dirasakan tidak praktis untuk mendidihkannya setiap habis digunakan, maka pendidihan satu atau dua kali dalam sehari sudah cukup. Bila sterilisasi dengan cara pendidihan tidak mungkin dilakukan, alat seperti diatas dapat dicuci menggunakan air panas, kemudian dibilas dengan air minum (air matang yang telah dingin) atau larutan garam. Setelah itu ditiris dan dikeringkan, serta peralatan diletakkan dalam keadaan tertutup. Usahakan untuk melakukan pendidihan paling tidak sekali dalam sehari (Depkes RI, 2007).
2.1.11. Teknik menyusui yang baik dan benar
Saat menyusui ibu harus rileks dan nyaman, bayi melekat menghadap puting ibu, kepala dan tubuh bayi berada pada garis lurus, seluruh puting dan sebagian besar areola (bagian payudara yang berwarna lebih gelap kecokelatan) masuk ke dalam mulut bayi, dagu bayi menyentuh payudara dan bokong bayi ditopang (Runtulalo, 2004).
Bayi dapat mengisap dengan baik jika mulut terbuka lebar, bibir bawah terlipat keluar, pipi bayi tidak cekung, tapi membulat dan isapannya teratur lambat dan dalam. ASI dapat dikatakan benar-benar kurang jika berat badan (BB) bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan, BB lahir dalam waktu 2 minggu belum kebal, ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam, cairan urin pekat, bau dan warna kuning (Runtulalo, 2004).
Posisi yang kurang benar dapat menyebabkan rasa sakit, lecet, dan luka pada puting serta membuat ibu dan bayi frustrasi. Bayi akan frustasi karena lapar dan ibu akan merasa cemas karena ketidak mampuan menyusui bayi. Kurangnya pengeluaran ASI dari payudara ibu bisa menyebabkan kepenuhan, bengkak payudara, dan bahkan kegagalan menyusui (Ramaiah, 2006).
Menurut Depkes RI, (2007) cara yang tepat ibu memeluk bayinya saat menyusui adalah:
1. Kepala dan badan bayi berada dalam satu garis lurus.
2. Wajah bayi harus menghadap payudara dengan hidung berhadapan dengan puting.
3. Ibu harus memeluk badan bayi dekat dengan badannya.
4. Jika bayi baru lahir, ibu harus menyangga seluruh badan, bukan hanya kepala dan bahu.
Menurut Depkes RI, (2007) cara menyangga payudara adalah sebagai berikut:
1. Ibu harus meletakkan jari-jarinya di dinding dada dibawah payudara, sehingga jari telunjuk membentuk topangan di bagian dasar payudara.
2. Ibu dapat menekan lembut payudaranya dengan jari-jari, cara ini dapat memperbaiki bentuk payudara sehingga mempermudah bayi untuk melekat dengan baik, sebaiknya ibu tidak memengang payudara terlalu dekat ke puting.
3. ibu harus menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar, sebelum membawa bayi kepayudara. Mulut bayi perlu membuka lebar untuk memasukkan payudara sepenuh mulutnya.
Menurut Depkes RI (2007) cara mendekatkan bayi kepayudara sebagai berikut:
a. Ibu harus mendekatkan bayi ke payudara, bukan mendekatkan badan atau payudara kebayi.
b. Ibu harus mengarahkan bibir bawah bayi ke bawah puting, sehingga dagu bayi akan menyentuh payudara.
Ibu dapat menyusui dengan berbagai posisi berbeda, misalnya berdiri. Penting bagi ibu untuk tetap nyaman dan santai, dan bagi bayi untuk bisa memasukkan cukup payudara kedalam mulutnya, sehingga bayi dapat menyusui secara efektif (Depkes RI, 2007).
Adapun tanda-tanda menyusui berjalan dengan baik dan benar adalah:
1. Umum ibu,
a. ibu tampak sehat,
b. ibu tampak rileks dan nyaman
c. terlihat tanda bonding ibu bayi.
2. Umum Bayi,
a. tampak sehat,
b. bayi tampak tenang dan rileks
c. bayi mencari payudara bila lapar.
3. Payudara,
a. Payudara tampak sehat,
b. puting keluar dan lentur,
c. terasa nyaman, tak nyeri,
d. payudara ditopang dengan baik oleh jari-jari yang jauh dari puting.
4. Posisi bayi,
a. kepala dan badan bayi dalam garis lurus,
b. bayi dipeluk dekat badan ibu,
c. seluruh badan bayi ditopang,
d. bayi mendekat kepayudara, hidung berhadapan dengan puting.
5. Pelekatan bayi:
a. Tampak lebih banyak ariola diatas bibir,
b. mulut bayi terbuka lebar,
c. bibir bawah terputar keluar,
d. dagu bayi menempel pada payudara.
6. Menghisap,
a. Hisapan lambat, dalam dengan istirahat,
b. pipi membulat waktu menghisap,
c. bayi melepaskan payudara waktu selesai,
d. ibu merasakan, tanda-tanda reflek oksitosin (Depkes RI, 2007).

Sumber : https://busbagus.co.id/